Halaman

Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Kisah Hidup Bapak Ini Sangatlah Menyedihkan Gan

Asalasah ~ Hari masih pagi, ketika Soekarna mengayuh sepedanya dengan perlahan di Jalan Jagakarsa, Kelurahan Jagakarsa, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rabu (15/5).

Soekarna harus berhati-hati membawa sepedanya karena anaknya yang berumur empat tahun terbaring di stang sepedanya.

Selembar plastik hitam menutupi badan bocah itu untuk melindungi dari curahan air hujan, yang saat itu gerimis mengguyur jalanan Ibu Kota yang dilewati Soekarna.

Kemarin, Rabu (15/5/2013), kaki mungil sang anak terjuntai tak bertena di atas tumpukan kertas yang menjadi alas badannya.

Seorang pengendara motor berjalan lambat sejajar kepada Soekarna. "Maaf pak, kenapa anaknya kok ditutup kantung kresek? tanya si pengendara motor.

Dengan lirih, Soekarna menjawab, "anak saya sakit, tapi saya tidak punya uang.". Terpancar ekspresi kebingungan di raut wajahnya. Rupanya kebingungan bagaimana mengobati anaknya yang sakit. Tak mudah memang bagi warga miskin seperti dirinya ketika didera masalah kesehatan.

Si pengendara motor kemudian memberikan sedikit uang kepada Soekarna dengan tujuan agar anaknya yang sakit segera dibawa berobat.

Soekarna terus mengayuh sepedanya, melaju dari arah Setu babakan menuju Pasar Minggu. Jika di bagian depan sepedanya terbaring anaknya yang sakit. di bagian belakang (boncengan) sepedanya penuh dengan berbagai barang bawaan. Ada tumpukan kardus, sangkar burung yang telah rusak dan sebuah tas lusuh menemani perjalanannya.

Baca Juga:  
Sumber: http://www.mrcoppas.com/2013/05/sedih-banget-liat-bapak-dan-anak-ini-gan.html
Baca Selengkapnya »»  

Gadis Berbakti Ini Merawat Ayahnya Walau Sedang Kuliah

Xu Dahui bersama ayahnya
Asalasah ~ Cinta seorang gadis ini terhadap ayahnya memang patut dipuji. Saat dirinya terjebak dalam kesibukan kuliah, dirinya masih menjaga ayahnya yang tubuhnya lumpuh sebagian.

Xu Dahui yang saat ini tengah belajar mendalami teknik elektro dan mekanik di Institut Bioengineering Wuhan, terus membawa ayahnya yang sedang sakit saat ia sedang mengikuti kuliah. Tidak hanya saat ia sedang kuliah, Xu juga menjaga ayahnya saat dirinya bekerja di kantin kampusnya.

Meskipun sibuk membagi waktu mengurus orang tua dan belajar, secara mengagumkan Xu terus berada di peringkat teratas dalam hampir seluruh mata kuliahnya.

"Keadaan tidak mempersulit hidup saya. Saya anak satu-satunya, jika berhenti kuliah, siapa yang akan menjaganya (ayah Xu)," ungkapnya Xu seperti dikutip Changjiang Daily, Sabtu (29/5/2010).

Xu memutuskan untuk membawanya ke kampus karena ibunya juga tidak mampu merawat sang ayah, karena sakit yang ia derita. Ayah Xu menderita pendarahan otak akut, yang menyebabkan sebelah badannya mengalami kelumpuhan parsial.

Selama merawat kedua orang tuanya, Xu selalu dipenuhi dengan jadwal yang padat. Dimulai bangun pagi untuk membeli sarapan, yang kemudian dilanjutkan membangunkan ayahnya dan mengurusnya sebelum hendak ke kampus. Perjalanan dari rumah ke kampus pun memakan waktu sekira satu jam.

Saat kembali dari kuliah pun, Xu harus disibukan kembali dengan memasak untuk makan malam bagi ibu dan ayahnya. Sebelum belajar pada malam hari mahasiswi manis ini juga membiasakan untuk memijat ayahnya selama 30 menit, sebelum sang ayah tidur.

Pihak universitas yang tersentuh dengan kisah hidup XU, akhirnya menawarkan apartemen universitas untuk keluarga Xu tinggal secara gratis. Ia juga bekerja di kantin kampus dan menjual pulsa telepon selama tiga jam, selama jeda perkuliahan.(faj)

Baca Juga:  
Baca Selengkapnya »»  

Kisah Doa Dua Lelaki, Indah Banget Doanya

Sebuah kapal karam diterjang badai hebat. Hanya dua lelaki yang dapat menyelamatkan diri dan berenang ke pulau kecil yang gersang. Dua orang yang selamat itu tak tahu apa yang harus dilakukan kecuali berdoa.

Untuk mengetahui doa siapakah yang paling dikabulkan, mereka sepakat pergi ke daerah berbeda dan tinggal berjauhan.

Doa pertama, mereka memohon diturunkan makanan. Esok harinya, lelaki pertama melihat sebuah pohon penuh buah-buahan tumbuh di sisi tempat tinggalnya. Sedangkan di daerah tempat tinggal lelaki yang lainnya tetap kosong.

updates.adventures.org 
Seminggu kemudian. Lelaki pertama merasa kesepian dan memutuskan berdoa agar diberikan isteri, keesokan harinya, ada kapal karam dan satu-satunya penumpang yang selamat adalah seorang wanita yang terdampar di sisi pulau tepat lelaki pertama tinggal. Sedangkan di sisi tempat tinggal lelaki ke dua tetap saja tidak ada apa-apa.

Segera saja, lelaki pertama ini berdoa memohon rumah, pakaian dan makanan. Keesokan harinya, seperti keajaiban, semua yang diminta hadir untuknya. Sedangkan lelaki yang kedua tetap saja tidak mendapatkan apa-apa.

Akhirnya, lelaki pertama ini berdoa meminta kapal agar ia dan isterinya dapat meninggalkan pulau itu.

Pada siang hari mereka menemui kapal tertambat di sisi pantainya. Segera saja lelaki pertama dan isterinya naik ke atas kapal dan siap-siap berlayar meninggalkan pulau itu. Ia pun memutuskan meninggalkan lelaki kedua yang tinggal di sisi lain pulau. Menurutnya lelaki kedua itu tidak pantas menerima keajaiban tersebut karena doa-doanya tak pernah terkabulkan.

Ketika kapal siap berangkat, lelaki pertama mendengar suara dari langit, “Hai. Mengapa engkau meninggalkan rekanmu yang ada di sisi lain pulau ini?”

“Berkatku hanyalah milikku sendiri, hanya kerana doakulah yang dikabulkan,” jawab lelaki pertama.
“Doa temanku itu tak satupun dikabulkan. Maka ia tak pantas mendapatkan apa-apa,”
“Kau salah!” suara itu bertempik
“Tahukah kau bahwa rakanmu itu hanya memiliki satu doa. Dan semua doanya terkabulkan. Bila tidak, maka kau takkan mendapatkan apa-apa.”
Lelaki pertama bertanya, “Doa macam apa yang dia panjatkan sehingga aku harus berhutang atas semua ini padanya?”
“Dia berdoa agar semua doamu dikabulkan”
Kesombongan macam apakah yang membuat kita merasa lebih baik dari yang lain? Banyak orang yang telah mengorbankan segalanya demi kebahagiaan kita. Tak selayaknya kita mengabaikan peranan orang lain, dan janganlah menilai sesuatu hanya dari “yang terlihat” saja.

Semoga kita bisa mengambil pelajarannya.

sumber: http://www.apakabardunia.com/2013/05/kisah-doa-dua-lelaki.html
Baca Selengkapnya »»  

Sepenggal Kisah Kepemimpinan Umar Yang Luar Biasa

Asalasah ~ ketika Umar bin Khattab ra menjadi khalifah, beliau sedang berjalan-jalan hingga wilayah tepi Madinah. Lagi-lagi, jika diibaratkan jaman sekarang, mungkin seperti di gugusan pulau terluar dari wilayah Indonesia, yang -mungkin- belum ada media semacam televisi, radio, apalagi internet, pelosoookkk banget. Coba cek google maps, cari 'sangihe'. Kurang lebih itulah gambarannya jika di Indonesia. Umar kemudian bertemu seorang laki-laki yang nampak lelah dan gelisah.

”Siapakah kamu?” Tanya Umar

”Aku adalah seorang pendatang, aku kemari untuk mencari khalifah, aku ada urusan dengannya,” jawab si lelaki

Ya, saya mengambil contoh gugusan pulau terluar wilayah Indonesia yang belum tersentuh media, hingga penduduk di wilayah itu tidak pernah melihat alias tidak hafal wajah presiden Indonesia waktu itu, hanya tau namanya saja. Begitulah kira-kira kondisi si lelaki. Saking jauhnya dari wilayah Madinah, ia tidak pernah pernah bertemu dan melihat Umar yang kala itu adalah khalifah. Ia hanya tau nama, hanya tau bahwa khalifah saat itu adalah Umar bin Khattab ra.

Sesaat kemudian, Umar mendengar ada rintihan wanita dari balik tenda yang didirikan sang lelaki, ia pun bertanya.

”Siapa itu, kenapa dia merintih?” Tanya sang khalifah

”Kau tidak perlu tau, aku hanya ingin ke kota Madinah menemui khalifah untuk minta bantuan kepadanya,” jawab sang lelaki.

Namun setelah ditanya berkali-kali, akhirnya laki-laki itu mengaku bahwa istrinya di dalam tenda sedang kesakitan akan melahirkan. Bergegas Umar pulang dan mengajak istrinya, Ummu Kultsum untuk membantu wanita tersebut melahirkan. Umar memikul sendiri bekal makanan sementara Ummu Kultsum membawa perlengkapan untuk melahirkan.

Setibanya di tenda, Ummu Kultsum langsung masuk kedalam dan membantu proses persalinan sementara Umar membuat api untuk memasak makanan untuk sang wanita. Tak berapa lama kemudian, Ummu Kultsum menengok keluar sambil berkata kepada Umar.

”Hai Amirul Mukminin, sampaikan kepada temanmu bahwa ia diberi karunia Alloh anak laki-laki.”

Sapaan ‘Amirul Mukminin’ kepada Umar membuat laki laki tadi kaget, ternyata seorang baik hati yang menolongnya sedari tadi adalah Umar bin Khattab sang khalifah. Ia terdiam tatkala mendengar Ummu Kultsum memanggilnya. Tak lama kemudian, Umar mengantar makanan yang telah ia masak kedalam tenda untuk diberikan kepada wanita yang baru melahirkan. Sikap Umar yang tidak mau mengenalkan dirinya sedari awal kepada laki-laki pendatang itu jelas tanpa bermaksud kemudian membuat laki-laki itu agar penasaran. Dalam benak saya, Umar pasti berpikir, tidak penting dikenal namanya, yang penting adalah sumbangsih nyata kita kepada sesama, sebagai seorang muslim. Biarlah orang lain mengenal kita dari apa yang kita perbuat, bukan dari apa yang kita jabat. Tersembunyi, tidak perlu menampakkan siapa kita, apa jabatan kita, yang penting adalah wujud kerja nyata.

Baca Juga:  
Sumber: http://muslimina.blogspot.com/2013/05/cerita-luar-biasa-dari-sang-khalifah.html?m=1
Baca Selengkapnya »»  

Kisah Kau Laknat Yang dibalik dan ditenggelamkan

Asalasah ~ Nabi Luth
Nabi Luth hidup semasa Nabi Ibrahim.Luth diutus sebagai Rosul atas salah satu kaum tetangga Ibrahim.Kaum ini,sebagaimana diutarakan oleh Al-Quran melakukan tindakan menyimpang yang belum dikenal dunia saat itu,yaitu perilaku sodomi.

Ketika Luth menyeru mereka untuk menghentikan penyimpangan tersebut dan menyampaikan peringatan dari Allah,mereka mengabaikannya,mengingkari kenabiannya dan meneruskan penyimpangan mereka,sehingga kaum ini dimusnahkan dengan bencana yang mengerikan.



Ayat yang menerangkan penghancuran kaum ini adalah sebagai berikut:
Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur,ketika matahari akan terbit.Maka Kami jadikan bahagian diatas kota itu terbalik kebawah dan Kami hujani mereka dengan batu belerang yang keras.Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda /kebesaran Kami bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda.dan sesungguhnya Kota itu benar-benar terletak dijalan yang masih tetap /dilalui manusia. Q.S Al-Hijr,15:73-76

Maka tatkala datang azab Kami,kami jadikan negeri kaum Luth itu yang atas kebawah/kami balikan,dan kami hujani mereka dengan batu belerang tanah yang terbakar secara bertubi-tubi,yang diberi tanda oleh Tuhanmu dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim .Q.S Huud,11:82-83

kemudian kami binasakan yang lain,dan kami hujani mereka dengan hujan batu belerang,maka amat kejamlah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu.sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti yang nyata.dan adalah kebanyakan dari mereka itu tidak beriman.dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Q.S Asy-Syuaraa,26:172-175


Tempat TInggal Kaum Nabi Luth
Kota kediaman nabi Luth dalam perjanjian lama disebut sebagai Kota Sodom . berada diutara laut merah kaum ini diketahui telah dihancurkan sebagaimana termaktub dalam Al-Quran.berdasarkan kajian Arkeologis mengungkapkan bahwa kota tersebut berada diwilayah Laut mati yang terbentang memanjang diantara perbatasan Israel-Yordania.

Tanda-Tanda Nyata di Danau Luth/Laut Matikejadian yang menimpa kaum Luth yang disebutkan didalam al-Quran berdasarkan perkiraan terjadi sekitar 18oo SM.Berdasarkan pada penelitian arkeologis dan geologis,peneliti Jerman Werner Keller mencatat bahwa kota Sodom dan Gomorah benar-benar berada di Lembah Siddim yang merupakan daerah terjauh dan terendah dari danau Luth dan bahwa pernah terdapat situs yang besar dihuni di daerah itu.Daerah ini dulunya dapat dilintasi dengan berjalan kaki. namum sekarang Lembah Siddim,tempat Sodom dan Gomorah dahulunya berada ditutupi oleh permukaan datar bagian Laut mati yang rendah.keruntuhan dasar danau akibat bencana alam mengerikan yang terjadi di awal alaf kedua SM mengakibatkan air garam dari utara mengalir ke rongga yang baru terbentuk ini dan memenuhi lembah sungai dengan air asin.

ayat ke 82 surat Huud dengan jelas menyebutkan jenis bencana yang menimpa kaum Luth Maka tatkala datang azab Kami,kami jadikan negeri kaum Luth itu yang atas kebawah/kami balikan,dan kami hujani mereka dengan batu belerang tanah yang terbakar secara bertubi-tubi pernyataan menjungkirbalikan kota bermakna kawasan tersebut dihancurkan oleh gempa bumi yang dahsyat.sebagaimana yang diungkapkan oleh Werner Keller:
bersama dengan dasar dari retakan yang sangat lebar ini,yang persis melewati daerah ini,lembah Siddim termasuk Sodom dan Gomorrah,dalam suatu hari terjerumus kekedalaman.kehancuran mereka terjadi melalui sebuah peristiwa gempa bumi dahsyat yang mungkin disertai dengan letusan,petir,keluarnya gas alam serta lautan api.

Danau Luth/laut mati terletak tepat dipuncak suatu kawasan seismik aktif yaitu daerah gempa bumi.
dasar dari Laut Mati berdekatan dengan reruntuhan yang berasal dari peristiwa tektonik lembah ini terletak pada sebuah tegangan yang merentang antara danau Tiberiya diutara dan tengah-tengah danau Arabah di selatan.

National Geografic edisi desember 1957 menyatakan sebagai berikut:
Gunung Sodom,tanah gersang dan tandus muncul secara tajam diatas laut mati.belum pernah seorang pun yang menemukan kota sodom dan Gomorrah yang dihancurkan,namun para akademisi percaya bahwa mereka berada di Lembah siddim yang melintang dari tebing terjal ini.kemungkinan air bah dari laut mati menelan mereka setelah gempa.

Baca Juga: 



Sumber: http://forum.viva.co.id/sejarah/870669-kaum-yang-dijungkirbalikan-dan-dimusnahkan.html
Baca Selengkapnya »»  

Kisah Tentang Makna Dari Waktu

Asalasah ~ Alkisah ada seorang wanita yang hidup di sebuah desa terpencil, dia ingin pergi kerja ke kota agar dia bisa mengoprasi wajahnya. Kemudian dia mengutarakan keinginannya untuk kerja di kota kepada kedua orang tuanya, tapi keinginannya tersebut di tolak oleh kedua orang tuanya. Mendengar kata kedua orang tuanya yang menolak keinginannya dia pun menangis, tapi tak berapa lama kemudian ibunya datang menghampiri dia. Dan tiba-tiba ibunya bilang “Kamu boleh pergi ke kota nak”.

Mendengar perkataan ibunya dia pun tersenyum. Dan pagi harinya dia bersiap-siap untuk pergi ke kota. Di tengah perjalanan yang lama dan melelahkan dia istirahat di sebuah rumah, dan dia pun membayangkan, ” andai ku bisa membangun rumah mewah dan dapat mengoprasi wajah ku yang biasa menjadi luar biasa ini.” Tiba-tiba di tengah-tengah lamunannya datang seorang nenek tua menghampirinya, dan bertanya “kenapa nak kamu tersenyum sendiri?”


“Saya sedang membayangkan andaikan saja ku bisa sukses di kota dan dapat mengoprasi wajahku ini”, kata dia. Dan nenek itu mengeluarkan jam kecil dari kantongnya, kemudian nenek itu berkata “Kamu tinggal putar jam itu sesuai dengan putaran jarum jam, bila kamu ingin segera meraih cita-citamu”.
“Baik nek”, kata wanita tadi.
Kemudian tak berapa lama dia memutar jam tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan nenek tadi. Dan tiba-tiba dia bisa bekerja di sebuah perusahaan ternama di Jakarta. Tapi dia tak puas dengan lamanya waktu yang di perlukan agar bisa mengoprasi wajahnya.

Kemudian dia kembali memutar jam tersebut, dan wajahnya pun menjadi cantik. Lagi-lagi dia kurang puas dengan wajahnya, dan kembali dia memutar jam kecil pemberian nenek-nenek yang pernah dia temui sekali lagi. Tapi setelah memutar jamnya dia mendapati wajahnya yang semula cantik jelita menjadi tua dan keriput. Dan dia menyesal dengan keadaan dia sekarang. Kemudian dia kembali menemui nenek-nenek yang memberi dia jam di tempat di mana dia bertemu. Tapi dia tak melihat nenek tersebut karena nenek itu telah lama meninggal. Dia pun hanya bisa menyesal dan menangisi nasibnya.

Teman-teman ku apa pesan yang dapat kita ambil dari kejadian wanita tadi?

Jadilah diri sendiri karena hanya dengan menjadi diri sendiri kita akan menjadi pribadi yang hidup dengan penuh rasa bahagia, damai, dan mulia.

Raihlah cita-cita dengan penuh pengorbanan, kegigihan, dan kedisiplinan waktu untuk belajar.

Kesuksesan bukan datang dari nasib dan keberuntungan, tapi datang dari kerja keras, ketidak putus asaan dan keyakinan.

Baca Juga:  
Baca Selengkapnya »»  

Renungan: Hadiah Jika Menahan Amarah Dengan Kesabaran

http://asalasah.blogspot.com/2013/05/renungan-hadiah-jika-menahan-amarah.htmlAsalasah ~ Kisah Renungan, Pada suatu pagi, seorang guru muda berjalan melintasi sebuah desa. Walaupun usianya baru menginjak 24 tahun, namun kepandaian dan kebijaksanaannya terkenal di seluruh penjuru negeri

 Tiba-tiba, langkahnya dihentikan oleh seorang pemuda yang bertubuh tinggi besar, beraut wajah merah tampak marah dan tidak senang.

"Hei," katanya kasar. "Anda itu tidak berhak mengajari orang lain..!"

Sejurus kemudian, pemuda ini mulai berteriak menantang dan menghina guru muda ini. "Tahu tidak? Anda ini sama saja bodohnya dengan orang lain. Punya kepandaian sedikit saja, sok tahu! Badan begitu kecil nyalimu cukup besar ya. Ayoo...kalau berani kita berkelahi!"

Mendapat "serangan" dari orang yang tak dikenalnya, sang guru muda justru tersenyum dan berkata : "Teman, Jika kamu memberi hadiah untuk seseorang, tapi seseorang itu tidak mengambilnya, siapakah pemilik hadiah itu?"

Si pemuda terkejut, karena tiba-tiba diberi pertanyaan yang aneh. Spontan, ia menjawab lantang, "Pertanyaan bodoh! Tentu saja! Hadiah itu tetap menjadi milikku karena akulah yang memberikan hadiah itu."

Guru muda ini tersenyum, lalu berkata, "Kamu benar, Kamu baru saja memberikan marah dan hinaan kepada saya dan saya tidak menerimanya, apalagi merasa terhina sama sekali. Maka kemarahan dan hinaan itu pun kembali kepadamu. Benar kan? Dan kamu menjadi satu-satunya orang yang tidak bahagia. Bukan saya. Karena sesungguhnya, melampiaskan emosi kemarahan adalah sebuah proses menyakiti diri sendiri. Membangkitkan sel-sel negatif di dalam diri".

Pemuda itu terdiam, mencoba mencerna kata demi kata sang guru. Perlahan tapi pasti, kepala dan hatinya seperti tersiram air dingin, ketika mendapat sebuah kesadaran baru.

Sebelum meninggalkan sang pemuda ini, sang guru muda pun menyampaikan sebuah kata-kata bijak untuknya.

"Jika kamu ingin berhenti menyakiti diri sendiri singkirkan kemarahan dan ubahlah menjadi cinta kasih. Ketika kamu membenci orang lain, dirimu sendiri tidak bahagia bahkan tersakiti secara alami. Tetapi ketika kamu mencintai orang lain, semua orang menjadi bahagia."

Baca Juga:  
Sumber: http://madiunkingdom.blogspot.com/2013/05/kisah-renungan-ada-hadiah-jika-merubah-amarah-dengan-kesabaran.html
Baca Selengkapnya »»  

Inilah Betapa Kuatnya Kekuatan Pikiran Anda

Asalasah ~ Kekuatan Pikiran ~ Bila kita menanan biji mangga, maka akan berbuah mangga. Bila kita menanam biji jeruk, maka akan berbuah jeruk. Sangat tidak mungkin bila biji-biji itu menghasilkan buah yang lain.

Begitu juga juga dengan apa yang kita alami di dunia ini, susah, senang, kesedihan, penderitaan, kemakmuran, dan beragam dinamika hidup lainnya, itu berasal dari diri kita sendiri, yaitu pikiran dan perasaan kita. Apapun yang terjadi pada diri kita saat ini adalah hasil dari apa yang kita tabur sebelumnya.

Berhati-hatilah dengan pikiran kita. Semua bisa terjadi karena pikiran kita. Seperti yang ulasan pada artikel sebelumnya yaitu Lebih dari Pemenang, semakin sering kita memikirkan hal-hal negatif maka sama halnya kita menarik kejadian-kejadian yang negatif dalam kehidupan kita dan sebaliknya bila semakin sering kita memikirkan hal-hal positif dalam kehidupan kita, maka sama halnya kita menarik kejadian-kejadian yang positif dalam kehidupan kita.

Akal akan membangun persepsi, meresap ke hati, terakumulasi menjadi sistem kepercayaan diri dan alam akan menyesuaikan kenyataan yang sesuai dengan sistem kepercayaan diri tersebut. Tentunya kita ingin hal-hal yang positif itu terjadi dalam kehidupan kita, maka mulailah untuk berpikir secara positif, tidak perlu menunggu nanti, besok, atau lusa. Berpikirlah positif dari sekarang.

Semua fasilitas yang ada dan telah kita nikmati selama ini, televisi, lampu, mobil, pesawat, semua adalah hasil dari pemikiran. Inilah instrumen dasar yang harus kita ubah ubah untuk bisa berubah. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa merubah diri kita, selain diri kita sendiri.

semua bunga esok hari ada dalam benih hari ini, semua hasil esok hari ada dalam pikiran hari ini - Aristoteles

Orang-orang yang sukses pasti diawali dengan rasa percaya yang tinggi. Mereka mengawalinya dengan kata-kata "Aku bisa. Aku pasti bisa!". Tidak ada kata menyerah dalam kamus mereka. Yang mereka pikirkan adalah perujangan dan berusaha. Kegagalan mereja jadikan cambuk untuk bisa menjadi lebih baik.

Orang-orang yang sehat jiwa dan raganya bukan hanya karena pola hidup mereka yang sehat. semua bersumber dari pikiran. Hati yang gembira adalah obat, tetapi semangat yang patah keringkan tulang. Bila kita selalu memikirkan hal negatif dan kita mengijinkan perasaan kita untuk bersedih, maka hal itu akan menyebabkan daya tahan tubuh kita menurun sehingga kita gampang terkena penyakit.

Dr. Herbert mengatakan bahwa lebih dari 90% penyakit tubuh disebabkan oleh jiwa, sering disebut dengan Psycho-Somatic Disease. Istilah ini berasal dari kata psycho yang berarti jiwa, dan somo yang berarti tubuh. Apabila jiwa (psycho) sedang berpikir maka akan memengaruhi tubuh (somo). Beberapa penguatan teori ini ditambahkan oleh penelitian pada 1986 tentang dialog dengan jiwanya sendiri oleh Fakultas Kedokteran di San Fransisco. Menurut hasil penelitian, lebih dari 75% penyakit tubuh berasal dari dialog dengan jiwanya sendiri. Itulah yang oleh ahli jiwa disebut “Sandiwara Internal”. Inilah cara orang menggambarkan kehidupan dalam benaknya, termasuk pikiran-pikiran dan susunannya dalam mental.

Bagaimana dengan pikiran yang kita punya? Sudahkah kita memiliki Kekuatan Pikiran yang positif? Kunci sukses dalah suatu kehidupan itu terletak pada pikiran kita. Semua itu tergantung bagaimana cara kita mengolah pikiran itu.

ubahlah pikiran Anda, maka hidup Anda akan berubah

Baca Juga:  
Baca Selengkapnya »»  

Kisah Istri Yang Mengharukan, Bisa Bikin Nangis

Asalasah ~ Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Baca Juga:  
Baca Selengkapnya »»  

Kisah Indah Pembelajaran Dari Sebuah Sumur

http://asalasah.blogspot.com/2013/04/kisah-indah-pembelajaran-dari-sebuah.html
Asalasah ~ Sebuah sumur bila ditimba airnya setiap hari, dia tidak pernah kering, terus ada air di dalamnya. Anehnya kalau dalam satu hari saja air tidak ditimba, ketinggian air yang ada di dalam sumur itu juga tidak meningkat. Tetap saja seperti semula.

Secara logika, kalau air di dalam sumur itu terus-menerus ditimba tentu suatu saat akan berkurang, demikian sebaliknya bila air itu tidak ditimba seharusnya ketinggian air itu meningkat, tetapi ini tidak terjadi. Aneh kan? Inilah hukum alam, di mana di dalam semesta terdapat misteri, dan juga semesta ini bertujuan untuk selalu memberi.

Sesungguhnya kehidupan kita juga sama dan serupa dengan sumur ini, sebab kita adalah bagian dari alam semesta. Tujuan alam semesta adalah untuk memberi, demikian juga kehadiran kita di muka bumi ini juga untuk memberi. Pada umumnya orang berpikir bahwa kalau dia memberi, apa yang dimilikinya pasti akan kekurangan. Namun kalau kita mau belajar dari sumur ini, semakin banyak dia memberi, akan semakin banyak air yang mengalir kepadanya. Jadi tidak perlu ragu lagi untuk memberi, karena apa yang diberikan akan kembali lagi kepada si pemberi.

Dalam hal memberi tidak seharusnya dalam bentuk uang atau materi saja; kita bisa memberi apa saja yang kita miliki. Menolong atau membantu orang lain sebetulnya juga merupakan tindakan memberi dan sebagai pedomannya, berikan sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang Anda miliki. Sebagai contoh, Anda memiliki kemampuan dan keterampilan bahasa Inggris, maka ajarkan keterampilan ini kepada orang lain yang membutuhkan. Dengan demikian, Anda sudah memberikan apa yang Anda miliki.

Ketika Anda mengajarkan keterampilan ini, maka dengan sendirinya kemampuan dan keterampilan Anda akan semakin meningkat. Yang perlu kita perhatikan adalah janganlah memberi karena terpaksa, janganlah memberi karena ingin dipuji orang lain, janganlah memberi untuk menunjukkan bahwa Anda orang yang kaya dan janganlah memberi hanya karena kebiasaan. Kalau ini yang Anda lakukan, sebetulnya pemberian Anda tidaklah ikhlas.

Sikap mental memberi seharusnya berlandaskan pada rasa belas kasih kepada orang lain, bukan karena mengharapkan sesuatu dari orang lain. Sebaiknya Anda memberi karena menginginkan orang lain bisa bahagia, bisa hidup lebih baik, dan lebih layak. Intinya, pemberian itu memang seharusnya bisa meningkatkan kualitas hidup bagi orang yang menerimanya.

Pada zaman yang serba materialistik ini, segala sesuatu yang diberikan tentu mempunyai tujuan untuk mendapatkan sesuatu dari orang lain, jadi memang agak sulit untuk memberi tanpa pamrih. Namun begitu bila kita tidak mencobanya, kita tidak akan tahu bahwa diri kita bisa memberi tanpa harus mengharapkan sesuatu (pamrih). Dengan mengembangkan sikap mental memberi yang murni, saya yakin setiap orang bisa melakukan ini. Sekarang pilihannya terserah kepada Anda. Sedangkan manfaat langsung yang bisa Anda rasakan ketika memberi adalah perasaan puas – kepuasan batin, dan inilah sebetulnya kebahagiaan pada tingkat yang tinggi!

Salam Bahagia dan Sejahtera.

Baca Juga:  
Sumber: http://risalahatiku46.blogspot.com/2012/08/belajar-dari-sebuah-sumur.html
Baca Selengkapnya »»  

Pembelajaran dari Tukang Rongsokan dan Jalan Menukik

Asalasah ~ Pada postingan kali ini saya akan memposting secercah inspirasi bagi anda semua. Kali ini saya akan menggambarkan sosok seorang tukang rongsok yang begitu inspiratif dan memotivasi hidup saya. Dan pada kali ini saya akan berbagi pada anda tentang apa yang saya fikirkan berkaitan dengan tukang rongsokan itu.

Barusan saya pergi ke rumah sahabat lama saya. Letaknya tidak terlalu jauh dari rumah saya. Saya hanya harus melangkah sekitar 100 meter dari rumah lalu saya akan disapa dengan jalan yang menurun dengan view persawahan yang sangat indah. Tepat di bawah jalan yang menukik turun itu adalah rumah teman saya.
2 jam saya berkunjung ke rumah teman lama saya itu. Maklum, namanya juga kawan lama pasti ketika bertemu akan ada banyak topik perbincangan. Mulai dari bisnis, kisah selama sekian tahun berpisah, bahkan masalah cinta. Kali ini saya tidak akan membahas tentang cinta, tapi mungkin nanti apabila ada waktu saya akan share sedikit tentang cinta dan berbagai permasalahannya.

Singkat cerita saya pun pamit pada teman lama saya itu dan berjanji apabila kami berdua ada waktu luang bersama saya akan kembali datang ke rumahnya untuk menjaga tali silaturahmi. Saya pun pulang. Saya tidak membiasakan diri untuk naik kendaraan bermotor karena menurut saya jalan kaki itu lebih sehat dibanding naik kendaraan bermotor. Apalagi cuaca saat itu sedang cerah (pukul setengah 4 sore) jadi view persawahan benar-benar indah.

Coba anda pikirkan, waktu berangkat saya berjalan dengan santai karena jalannya menurun. Lalu saat pulang? Ya, menanjak.

Tadinya saya akan menanjak dengan perlahan-lahan saja karena takut kelelahan. Sembari menikmati udara yang begitu sejuk dan ditemani musik-musik instrumental buatan saya sendiri yang membuat suasana begitu tentram. Namun saat di tengah tanjakan saya melihat seorang tukang rongsokan yang mendorong gerobaknya. Dan gerobak itu dipenuhi oleh bebatuan brangkal yang entah mau ia bawa kemana.

Saya berpikir apabila saya berjalan dengan santai lalu tukang rongsok itu berhasil mengejar saya, maka saya akan diminta tolong untuk mendorong gerobak yang berat itu. Sedangkan suasana waktu itu sedang sangat tentram dan saya tidak mau ketentraman saya ini terganggu karena disuruh mendorong gerobak.

Akhirnya saya pun berjalan agak cepat menaiki tanjakan yang lumayan menukik itu. Dengan maksud untuk menjauhi tukang rongsok tersebut.

Dengan nafas yang masih tidak teratur akhirnya saya berhasil sampai di atas sembari menarik nafas panjang saya pun kembali berjalan lambat. Namun kali ini sangat lambat karena paha saya terasa agak sakit. Mungkin karena barusan menanjak dengan terlalu bertenaga sehingga otot paha saya terasa membengkak.

Tiba-tiba dari belakang terdengar suara “greek...greeekk....grek...” . saya pun menengok ke belakang. Saya hampir kaget. Tukang rongsong itu tepat di belakang saya dan hanya berjarak sekitar 2 meter! Saya hanya terdiam. Bagaimana bisa orang yang mendorong gerobak yang begitu berat tiba-tiba menyusul orang yang tidak membawa apa-apa?

Saya melihat wajahnya yang tidak ada setetes air keringat sedikitpun. Tak lama ia pun menyusul saya dan sekarang keadaannya terbalik, tukang rongsokan itu ada didepan saya dan masih mendorong gerobak beratnya itu. Saya hanya merenung. Ini adalah suatu pelajaran yang berharga. Anda tahu apakah pelajaran yang saya dapatkan kali ini?

Dari kejadian ini bisa saya simpulkan. Orang yang bekerja keras tetapi egois tetap saja tidak akan lebih baik daripada orang yang tenang dan sabar. Meskipun orang itu tidak bekerja keras, tetapi ia menanamkan prinsip “ perlahan tapi pasti “.

Jadi, apabila anda seorang pelajar, mulailah berpikir rasional. Belajar secara dadakan benar-benar bukan cara yang baik. Belajarlah dengan santai tetapi terus menerus. Mudah-mudahan dengan cara seperti itu hasil yang diperoleh akan lebih maksimal.

Cukup sekian renungan yang sederhana ini. Saya harap anda mengerti apa yang saya ingin katakan pada postingan kali ini.

Baca Juga:  
Baca Selengkapnya »»  

Kisah Keluarga Yahudi Ortodoks Yang Masuk Islam

Cohen dan Keluarganya
Asalasah ~  Berikut kisah keluarga Yahudi yang masuk Islam disebabkan bersihnya akidah Islam (Tauhid). Tetapi sayangnya malah masih ada disekitar kita orang yang mengaku muslim tetapi merusak akidahnya dengan berdo'a melalui perantara-perantara seperti kuburan dll.

Pada tahun 1998, Joseph Cohen seorang Yahudi Ortodoks kelahiran AS, hijrah ke Israel karena keyakinannya yang sangat kuat pada Yudaisme. Ia kemudian tinggal di pemukiman Yahudi Gush Qatif di Gaza (Israel mundur dari Gaza pada 2005). 

Cohen tak pernah mengira bahwa kepindahannya ke Israel justru membawanya pada cahaya Islam. Setelah tiga tahun menetap di Gaza, Cohen memutuskan untuk menjadi seorang muslim setelah ia bertemu dengan seorang Syeikh asal Uni Emirat Arab dan berdiskusi tentang teologi dengan Syeikh tersebut lewat internet. 

Setelah masuk Islam, Cohen mengganti namanya menjadi Yousef Al-Khattab. Tak lama setelah ia mengucapkan syahadat, istri dan empat anak Yousef mengikuti jejaknya menjadi muslim. 

Sekarang Yousef Al-Khattab aktif berdakwah di kalangan orang-orang Yahudi meski ia sendiri tidak diakui lagi oleh keluarganya yang tidak suka melihatnya masuk Islam. 

"Saya sudah tidak lagi berhubungan dengan keluarga saya, kita tidak boleh memutuskan hubungan kekeluargaan, tapi pihak keluarga saya adalah Yahudi yang fanatik dengan entitas keyahudiannya 'kami tidak memiliki pilihan lain selain memutuskan kontak untuk saat ini', kata-kata terakhir yang mereka lontarkan pada saya, mereka bilang saya barbar," tutur Yousef tentang hubungan dengan keluarganya sekarang. 

Ia mengakui, berdakwah tentang Islam di kalangan Yahudi bukan pekerjaan yang mudah. Menurutnya, yang pertama kali harus dilakukan dalam mengenalkan Islam adalah, mengatakan bahwa hanya ada satu manhaj dalam Islam yaitu manhaj yang dibawa oleh Rasulullah SAW yang kemudian diteruskan oleh para sahabat dan penerusnya hingga sekarang. 

"Cara yang paling baik untuk membuktikan bahwa Islam adalah agama untuk semua umat manusia adalah dengan memberikan penjelasan berdasarkan ayat-ayat AlQur'an dan yang membedakan antara umat manusia adalah ketakwaannya pada Allah semata," ujar Yousef. 

"Islam bukan agama yang rasis, kita punya bukti-bukti yang sangat kuat, firman Allah dan perkataan Rasulullah SAW. Kita berjuang bukan untuk membenci kaum kafir, kita berjuang hanya demi Allah semata, untuk melawan mereka yang ingin membunuh kita, yang menjajah tanah air kita, yang menyebarkan kemunkaran dan ideologi Barat di negeri kita misalnya ideologi demokrasi," sambung Yousef. 

Ia mengatakan bahwa dasar ajaran agama Yahudi sangat berbeda dengan Islam. Perbedaan utamanya dalam masalah tauhid. Agama Yahudi, kata Yousef percaya pada perantara dan perantara mereka adalah para rabbi. 
Orang-orang Yahudi berdo'a lewat perantara rabbi-rabbi mereka. 

"Yudaisme adalah kepercayaan yang berbasiskan pada manusia. Berbeda dengan Islam, agama yang berbasis pada AlQur'an dan Sunnah. Dan keyakinan pada Islam tidak akan pernah berubah, di semua masjid diseluruh dunia, AlQur'an yang kita dengarkan adalah AlQur'an yang sama," ujar Yousef. 

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa Yudaisme disisi lain berpatokan pada 'tradisi oral' misalnya kitab Talmud yang disusun berdasarkan informasi dari mulut ke mulut yang kemudian dibukukan. Para rabbi sendiri, kata Yousef mengakui bisa saja banyak hal yang sudah orang lupa sehingga keabsahan kitab tersebut bisa dipertanyakan. 

Yousef mengungkapkan, kitab Taurat yang diyakini kaum Yahudi sekarang memiliki sebelas versi yang berbeda dan naskah-naskah Taurat itu bukan lagi naskah asli. 
"Alhamdulillah, Allah memberikan rahmat pada kita semua dengan agama yang mudah dimana banyak orang yang bisa menghafal AlQur'an dari generasi ke generasi. Allah memberkati kita semua dengan AlQur'an," tukas Yousef. 

Meski demikian, ia meyakini bahwa dialog adalah cara terbaik dalam berdakwah terutama dikalangan Yahudi. Ditanya tentang kelompok-kelompok Yahudi yang mengklaim Anti-Zionis. Yousef menjawab bahwa secara pribadi maupun dari sisi religius, ia tidak percaya dengan yahudi-yahudi yang mengklaim Anti-Zionis. "Dari sejarahnya saja, mereka adalah orang-orang yang selalu melanggar kesepakatan. Mereka membunuh para nabi (selain nabi Isa, tentunya), oleh sebab itu saya tidak pernah percaya pada mereka, meski Islam selalu menunjukkan sikap yang baik pada mereka," paparnya. 

Yousef menegaskan bahwa pernyataannya itu bukan untuk membela orang-orang Palestina ataupun atas nama seorang muslim. Pernyataan itu merupakan pendapat pribadinya. "Allah Maha Tahu," tandasnya. 

Sebagai orang yang pernah tinggal di pemukiman Yahudi di wilayah Palestina, Yousef mengakui adanya diskriminasi yang dilakukan pemerintah Israel terhadap muslim Palestina. Ia sendiri pernah dipukul oleh tentara-tentara Israel meski tidak seburuk perlakuan tentara-tentara Zionis itu kepada warga Palestina. 

"Saya masih beruntung, penderitaan yang saya alami tidak seburuk penderitaan saudara-saudara kita di Afghanistan yang berada di bawah penjajahan AS atau saudara-saudara kita yang berada di kamp penjara AS di Kuba (Guantanamo)." imbuhnya dengan rasa syukur.

Baca Juga: 


Sumber: http://qarainci.blogspot.com/2011/03/kisah-yahudi-yang-masuk-islam.html
Baca Selengkapnya »»  

Kisah Sang Suami Baik Yang Sangat Mengharukan..hiks

http://asalasah.blogspot.com/2013/03/kisah-sang-suami-baik-yang-sangat-mengharukan.htmlAsalasah ~ Kisah nyata yang akan membuat setiap orang terharu setelah membacanya ini saya dapatkan dari sebuah notes di facebook bernama Rina Amalina, semoga dapat menjadi pelajaran bagi kita semua terutama bagi kaum hawa yg sudah berkeluarga. Saya memberanikan diri untuk sharing tulisan ini disini karena di notes tersebut tertulis :


“Silahkan berbagi tulisan ini kepada saudara, teman,kerabat anda. Saya berharap pengalaman yg saya miliki dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.”
Jadi atas dasar itu saya mencoba untuk membantu sharing disini, syukur2 teman2 disini juga akan melakukan sharing di tempat laen dan tetap tanpa lupa etika dalam melakukan sharing terhadap tulisan orang lain adalah memberikan sumbernya. Berikut kisahnya :

Ini adalah kisah nyata di kehidupanku. Seorang suami yg kucintai yang kini telah tiada. Begitu besar pengorbanan seorang suamiku pada keluargaku. Begitu tulus kasih sayangnya untukku dan anakku.

Suamiku adalah seorang pekerja keras. Dia membangun segala yang ada di keluarga ini dari nol besar hingga menjadi seperti saat ini. Sesuatu yang kami rasa sudah lebih dari cukup.

Aku merasa sangat berdosa ketika teringat suamiku pulang bekerja dan aku menyambutnya dengan amarah, tak kuberikan secangkir teh hangat melainkan kuberikan segenggam luapan amarah. Selalu kukatakan pada dia bahwa dia tak peduli padaku, tak mengerti aku, dan selalu saja sibuk dengan pekerjaannya.

Tapi kini aku tahu. Semua ucapanku selama ini salah dan hanya menjadi penyesalanku karena dia telah tiada. Temannya mengatakan padaku sepeninggal kepergiannya. Bahwa dia selalu membanggakan aku dan anakku di depan rekan kerjanya.

Dia berkata, “ setiap kali kami ajak dia makan siang, mas anwar jarang sekali ikut kalau tidak penting sekali, alasannya slalu tak jelas. Dan lain waktu aku sempat menanyakan kenapa dia jarang sekali mau makan siang, dia menjawab, “ aku belum melihat istriku makan siang dan aku belum melihat anakku minum susu dengan riang, lalu bagaimana aku bisa makan siang.”

Saat itu tertegun, aku salut pada suamimu. Dia sosok yang sangat sayang pada keluarganya. Suamimu bukan saja orang yang sangat sayang pada keluarga, tapi suamimu adalah sosok pemimpin yang hebat. Selalu mampu memberikan solusi-solusi jitu pada perusahaan.”

Aku menahan air mataku karena aku tak ingin menangis di depan rekan kerja suamiku. Aku sedih karena saat ini aku sudah kehilangan sosok yang hebat. Teringat akan amarahku pada suamiku, aku selalu mengatakan dia slalu menyibukkan diri pada pekerjaan, dia tak pernah peduli pada anak kita.

Namun itu semua salah. Sepeninggal suamiku. Aku menemukan dokumen2 pekerjaannya. Dan aku tak kuasa menahan tangis membaca di tiap lembar di sebuah buku catatan kecil di tumpukan dokumen itu, yang salah satunya berbunyi:

“ Perusahaan kecil CV. Anwar Sejahtera di bangun atas keringat yang tak pernah kurasa. Kuharap nanti bukan lagi CV.Anwar Sejahtera, melainkan akan di teruskan oleh putra kesayanganku dengan nama PT. Syahril Anwar Sejahtera.

Maaf nak, ayah tidak bisa memberikanmu sebuah kasih sayang berupa belaian. Tapi cukuplah ibumu yang memberikan kelembutan kasih sayang secara langsung. Ayah ingin lakukan seperti ibumu. Tapi kamu adalah laki-laki. Kamu harus kuat. Dan kamu harus menjadi laki-laki hebat. Dan ayah rasa, kasih sayang yang lebih tepat ayah berikan adalah kasih sayang berupa ilmu dan pelajaran.

Maaf ayah agak keras padamu nak. Tapi kamulah laki-laki. Sosok yang akan menjadi pemimpin, sosok yang harus kuat menahan terpaan angin dari manapun. Dan ayah yakin kamu dapat menjadi seperti itu.”

Membaca itu, benar2 baru kusadari betapa suamiku menyayangi putraku, betapa dia mempersiapkan masa depan putraku sedari dini. Betapa dia memikirkan jalan untuk kebaikan anak kita.

Setiap suamiku pulang kerja. Dia selalu mengatakan, “ ibu capai? istirahat dulu saja”. Dengan kasar kukatakan, “ya jelas aku capai, semua pekerjaan rumah aku kerjakan. Urus anak, urus cucian, masak, ayah tahunya ya pulang datang bersih.titik.”

Sungguh, bagaimana perasaan suamiku saat itu. Tapi dia hanya diam saja. Sembari tersenyum dan pergi ke dapur membuat teh atau kopi hangat sendiri. Padahal kusadari. Beban dia sebagai kepala rumah tangga jauh lebih berat di banding aku. Pekerjaannya jika salah pasti sering di maki-maki pelanggan. Tidak kenal panas ataupun hujan dia jalani pekerjaannya dengan penuh ikhlas.

Suamiku meninggalkanku setelah terkena serangan jantung di ruang kerjanya, tepat setelah aku menelponnya dan memaki-makinya. Sungguh aku berdosa. Selama hidupnya tak pernah aku tahu bahwa dia mengidap penyakit jantung. Hanya setelah sepeninggalnya aku tahu dari pegawainya yang sering mengantarnya ke klinik spesialis jantung yang murah di kota kami.

Pegawai tersebut bercerita kepadaku bahwa sempat dia menanyakan pada suamiku.
“Pak kenapa cari klinik yang termurah? saya rasa bapak bisa berobat di tempat yg lebih mahal dan lebih memiliki pelayanan yang baik dan standar pengobatan yang lebih baik pula”

Dan suamiku menjawab, “tak usahlah terlalu mahal. Aku hanya ingin tahu seberapa lama aku dapat bertahan. Tidak lebih. Dan aku tak mau memotong tabungan untuk hari depan anakku dan keluargaku. Aku tak ingin gara-gara jantungku yang rusak ini mereka menjadi kesusahan. Dan jangan sampai istriku tahu aku mengidap penyakit jantung. Aku takut istriku menyayangiku karena iba. Aku ingin rasa sayang yang tulus dan ikhlas.”

Ya Robb..Maafkan hamba-Mu Ya Allah, hamba tak mampu menjadi istri yang baik. Hamba tak sempat memberikan rasa sayang yang pantas untuk suami hamba yang dengan tulus menyayangi keluarga ini.

Aku malu pada diriku. Hanya tangis dan penyesalan yang kini ada. Saya menulis ini sebagai renungan kita bersama. Agar kesalahan yang saya lakukan tidak di lakukan oleh wanita-wanita yang lain. Karena penyesalan yang datang di akhir tak berguna apa-apa. Hanyalah penyesalan dan tak merubah apa-apa.

Banggalah pada suamimu yang senantiasa meneteskan keringatnya hingga lupa membasuhnya dan mengering tanpa dia sadari.

Banggalah pada suamimu, karena ucapan itu adalah pemberian yang paling mudah dan paling indah jika suamimu mendengarnya.

Sambut kepulangannya di rumah dengan senyum dan sapaan hangat. Kecup keningnya agar dia merasakan ketenangan setelah menahan beban berat di luar sana.
Sambutlah dengan penuh rasa tulus ikhlas untuk menyayangi suamimu. Selagi dia kembali dalam keadaan dapat membuka mata lebar-lebar. Dan bukan kembali sembari memejamkan mata tuk selamanya.
Teruntuk suamiku.
Maafkan aku sayang.
Terlambat sudah kata ini ku ucapkan.
Aku janji pada diriku sendiri teruntukmu.
Putramu ini akan kubesarkan seperti caramu.
Putra kita ini akan menjadi sosok yang sepertimu.
Aku bangga padamu, aku sayang padamu.
Istrimu
Rina
Silahkan berbagi tulisan ini kepada saudara, teman, kerabat anda. Saya berharap pengalaman yg saya miliki dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.
------------------------------------Selesai-------------------------------------------

Baca Juga:  
Sumber: http://qarainci.blogspot.com/2011/04/suamiku-kini-telah-tiada-tetapi.html
Baca Selengkapnya »»  

Kisah Tukang Becak Yang Sangat Dermawan

Asalasah ~ Tak perlu menggembar-gemborkan sudah berapa banyak kita menyumbang orang karena mungkin belum sepadan dengan apa yang sudah dilakukan oleh Bai Fang Li. Kebanyakan dari kita menyumbang kalau sudah kelebihan uang. Jika hidup pas-pasan keinginan menyumbang hampir tak ada.

Bai Fang Li berbeda. Ia menjalani hidup sebagai tukang becak. Hidupnya sederhana karena memang hanya tukang becak. Namun semangatnya tinggi. Pergi pagi pulang malam mengayuh becak mencari penumpang yang bersedia menggunakan jasanya. Ia tinggal di gubuk sederhana di Tianjin, China.
 
Ia hampir tak pernah beli makanan karena makanan ia dapatkan dengan cara memulung. Begitupun pakaiannya. Apakah hasil membecaknya tak cukup untuk membeli makanan dan pakaian? Pendapatannya cukup memadai dan sebenarnya bisa membuatnya hidup lebih layak. Namun ia lebih memilih menggunakan uang hasil jerih payahnya untuk menyumbang yayasan yatim piatu yang mengasuh 300-an anak tak mampu.
http://asalasah.blogspot.com/2013/03/kisah-tukang-becak-yang-sangat-dermawan.html
Bai Fang Li mulai tersentuh untuk menyumbang yayasan itu ketika usianya menginjak 74 tahun. Saat itu ia tak sengaja melihat seorang anak usia 6 tahunan yang sedang menawarkan jasa untuk membantu ibu-ibu mengangkat belanjaannya di pasar. Usai mengangkat barang belanjaan, ia mendapat upah dari para ibu yang tertolong jasanya. 
 
Namun yang membuat Bai Fang Li heran, si anak memungut makanan di tempat sampah untuk makannya. Padahal ia bisa membeli makanan layak untuk mengisi perutnya. Ketika ia tanya, ternyata si anak tak mau mengganggu uang hasil jerih payahnya itu untuk membeli makan. Ia gunakan uang itu untuk makan kedua adiknya yang berusia 3 dan 4 tahun di gubuk di mana mereka tinggal. Mereka hidup bertiga sebagai pemulung dan orangtuanya entah di mana.
 
Bai Fang Li yang berkesempatan mengantar anak itu ke tempat tinggalnya tersentuh. Setelah itu ia membawa ketiga anak itu ke yayasan yatim piatu di mana di sana ada ratusan anak yang diasuh. Sejak itu Bai Fang Li mengikuti cara si anak, tak menggunakan uang hasil mengayuh becaknya untuk kehidupan sehari-hari melainkan disumbangkan untuk yayasan yatim piatu tersebut.
 
Bai Fang Li memulai menyumbang yayasan itu pada tahun 1986. Ia tak pernah menuntut apa-apa dari yayasan tersebut. Ia tak tahu pula siapa saja anak yang mendapatkan manfaat dari uang sumbangannya. Pada tahun 2001 usianya mencapai 91 tahun. Ia datang ke yayasan itu dengan ringkih. Ia bilang pada pengurus yayasan kalau ia sudah tak sanggup lagi mengayuh becak karena kesehatannya memburuk. Saat itu ia membawa sumbangan terakhir sebanyak 500 yuan atau setara dengan Rp 675.000.
Dengan uang sumbangan terakhir itu, total ia sudah menyumbang 350.000 yuan atau setara dengan Rp 472,5 juta. Anaknya, Bai Jin Feng, baru tahu kalau selama ini ayahnya menyumbang ke yayasan tersebut. Tahun 2005, Bai Fang Li meninggal setelah terserang sakit kanker paru-paru.
Melihat semangatnya untuk menyumbang, Bai Fang Li memang orang yang luar biasa. Ia hidup tanpa pamrih dengan menolong anak-anak yang tak beruntung. Meski hidup dari mengayuh becak (jika diukur jarak mengayuh becaknya sama dengan 18 kali keliling bumi), ia punya kepedulian yang tinggi yang tak terperikan.

Baca Juga:  
Baca Selengkapnya »»